Penapakan kaki Armstrong di bulan sangat berarti banyak. Seperti yang pernah diungkapnya, “Satu langkah kecil bagi seorang lelaki, satu langkah raksasa bagi manusia,” jejak kakinya menandakan era baru bagi peradaban manusia di luar angkasa. Sekaligus pertanda kemenangan AS atas Uni Soviet dalam Perang Dingin di luar angkasa, yang dimulai pada 4 Oktober 1957.
Meski demikian, tak sedikit orang yang meragukan cerita Armstrong. Mereka membangun satu teori yang menolak anggapan bahwa manusia pernah menjejakkan kakinya di bulan. Pengakuan Armstrong, bagi mereka, tak lebih bualan khas Amerika semata.
Berbagai pertanyaan diajukan oleh pendukung teori tersebut. Berbagai pertanyaan itu semakin gencar saat film “Capricorn One” diluncurkan oleh Warner Brothers pada 1978. Film tersebut menceritakan tentang suatu perjalanan ke Mars, yang didukung oleh “special Effect” luar biasa, sehingga sanggup meyakinkan penontonnya bahwa manusia telah mendarat di Mars.
Bagi mereka yang tak percaya adanya jejak kaki Armstrong di bulan, mengajukan pertanyaan terkait bendera Amerika, yang ditancapkan sesaat setelah Armstrong mendarat di bulan. Bagaimana, dalam foto, bendera tersebut nampak berkibar, padahal di luar angkasa tak ada angin.
Tak hanya itu, dari hasil forensik digital belakangan, diketahui bahwa foto-foto Armstrong adalah palsu. Alasan yang dikemukakan, sumber cahaya bulan hanya dari matahari. Sementara pada foto, ditemukan banyak bayangan tak lazim, dimana arah bayangan berbeda-beda. Kesimpulannya, lokasi pemotren “mirip bulan” itu melibatkan sejumlah “lighting” yang biasa ditemui di studio foto atau pada teknologi “visual effect” film-film Hollywood.
Belum lagi masalah teknologi jarak jauh dari bumi ke bulan yang belum dapat dilakukan pada tahun 1969. Jadi, tak mungkin terjadi komunikasi radio antara astronot di bulan dengan stasiun kontrol di bumi ketika itu.
Lalu, jika teori di atas dipandang benar, maka mengapa Amerika merekayasa pendaratan manusia di bulan?. Ada banyak teori mengenai ini, namun yang paling terkenal ialah Amerika ingin mengalahkan teknologi roket antariksa Uni Soviet yang sudah jauh lebih canggih saat itu. Pencitraan ini dipandang penting, karena pada masa itu masih merupakan era perang dingin blok Barat dengan Komunis. Masing-masing pihak akan berusaha menjadi yang terdepan untuk menarik perhatian dan simpati negara lain agar mau bergavung dengan blok mereka. Terlebih, saat itu, Uni Soviet, pada 1957, meluncurkan satelitnya yang fenomenal, yaitu Sputnik 1.
Agaknya, seiring dengan kabar wafatnya Armstrong, maka benar tidaknya teori konspirasi tersebut ikut terkubur bersama Armstrong. Kini Armstrong “telah mendarat”, persis seperti yang diberitakan oleh Buzz Aldrin saat menjejakkan kakinya di bulan bersama Armstrong, “Houston, Tranquility base here. The Eagle has landed.”
Selamat jalan Armstrong. Dunia tak akan melupakkan langkah kecil kakimu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar